Kamis, 10 September 2020

Kenapa Harus 12 tahun ?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjelaskan alasan dirintisnya program wajib belajar (wajar) 12 tahun dalam rapat kerja yang digelar bersama Komisi X DPR, Rabu (1/2/2012), di Gedung DPR, Jakarta. Nuh menjelaskan, wajar 12 tahun merupakan bentuk kesinambungan, dan konsekuensi logis dari program wajar 9 tahun.

"Beberapa studi juga menunjukkan bahwa proses demokrasi bisa berjalan dengan baik ketika didukung oleh tingkat pendidikan masyarakatnya," kata Nuh. Selanjutnya, kata dia, wajar 12 tahun menjadi penting karena memiliki hubungan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Sebagaimana diketahui, IPM sangat terkait erat dengan daya saing suatu bangsa. Dirinya juga mengklaim, wajar 12 tahun digunakan sebagai penghantar untuk mencetak generasi masa depan yang lebih siap bekerja agar dari segi usia dan kompetensi siap. "Intinya, jangan ada anak lulusan SMP yang memilih untuk bekerja. Mereka harus melanjutkan sekolah, dan akan kita godok agar lebih siap bekerja melalui pendidikan. Karena lamanya waktu pendidikan sangat terkait dengan pendapatan perkapita suatu negara," ujarnya.


Biografi Bapak Pendidikan Bangsa : Ki Hajar Dewantara

Pemerintah menetapkan setiap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Ki Hajar Dewantara. Dirinya meupakan sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Ki Hajar Dewantara merupakan pendiri dari Taman Siswa untuk penduduk pribumi mendapatkan pendidikan yang sama dengan orang-orang bangsawan.

Nama Ki Hajar Dewantara

Dilansir dari buku Kumpulan Pahlawan Indonesia (2012) karya Mirnawati, Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat.

Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Dirinya berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta.

Soewardi kecil cukup beruntung, berkesempatan menempuh pendidikan bersama dengan anak-anak bangsa Eropa di Sekolah Dasar Belanda ELS (Europeesche Lagere School).

Baca juga: Pidato Lengkap Hardiknas 2020 Mendikbud Nadiem Makarim

Kemudian dirinya melanjutkan pendidikan ke STOVIA. Namun, dirinya tidak bisa menamatkan pendidikan dokternya dikarenakan sakit.

Saat usianya 40 tahun, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan tidak lagi menggunakan gelar bangsawannya.

Hal ini dilakukan Ki Hajar Dewantara agar bebas bersosialisasi dengan kalangan rakyat biasa.

Kiprah Ki Hajar Dewantoro

Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain:

Sedyotomo

Midden Java

De Express

Oetoedan Hindia

Kaoem Moeda

Tjahaja Timoer

Poesara

Dia menjadi salah satu penulis andal. tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antipenjajahan.

Selain menjadi wartawan muda, Ki Hajar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Salah satunya aktif pada organisasi Budi Utomo.

Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dirinya mendirikan Indische Partij bersama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Namun, Indische Partij ditolak oleh Belanda dan menggantinya dengan membentuk Komite Bumiputera pada 1913.

Komite tersebut bertujuan untuk melancarkan krituik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik pajak dari rakyat kecil.

Ki Hajar Dewantara mengkritik tindakan perayaan tersebut melalui tulisan yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk satu juga).

Akibat tulisan tersebut, Ki Hajar Dewantara ditangkap Pemerintah Hindia Belanda dan dibuang ke Pulau Bangka.

Namun, Ki Hajar Dewantara memilih untuk dibuang ke Belanda dan diizinkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Selama menjalani masa pembuangan di Belanda, Ki Hajar Dewantara memanfaatkannya dengan banyak belajar.

Dirinya mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran. Bahkan, prestasinya ditunjukkan dengan memperoleh Europeesche AKter.

Pada 1918, Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia setelah menjalani hukuman selama masa pembuangan.

Sekembalinya ke tanah air, Ki Hajar Dewantara bertekad untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Dirinya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Institur Taman Siswa) pada 3 Juli 1922.

Pendidikan ini bertujuan menanamkan rasa kebangsaan mencintai tanah air untuk berjuang memperoleh kemerdekaan.

Ki Hajar Dewantara juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisannya tersebut, dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama.

Pada 1957, dirinya mendapat gelar Covtor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Pada 26 April 1959, Ki Hajar Dewantara meninggal dunia dan dimakamkan di kota kelahirannya, Yogyakarta.

Untuk mengenang jasa dan perjuangan Ki Hajar Dewantara, pemerintah memberikan julukan " Bapak Pendidikan" dan menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Kenapa Harus Bersekolah ?

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Demikian bunyi sebuah pepatah, menggambarkan betapa pentingnya ilmu untuk dicari dan dimiliki, sampai-sampai menempuh jarak ribuan kilometer ke negeri China pun dianjurkan. Hal yang sama berlaku juga untuk pendidikan, yang obyek utamanya sendiri adalah ilmu. Dengan pendidikan, seseorang bukan saja bisa tumbuh sebagai manusia yang baik, tetapi juga berkualitas dan memiliki intelektual. Tentu saja, disamping terhindar pula dari yang namanya “ketertinggalan”. Karenanya, tidak berlebihan jika sekolah dan mendapat pendidikan penting bagi setiap individu.

Cara mendapatkannya bagaimana? Salah satunya dengan bersekolah.

Kata sekolah atau yang dalam bahasa latin disebut “skhole”, “scola”, “scolae” atau “skhola” sendiri memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, di mana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja.


Kala itu, kegiatan di waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi kegiatan scola ini anak-anak biasanya ditemani oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran yang diberikan.


Sepintas, tak jauh berbeda dengan sekolah yang kita temui di masa kini. Paling tidak dari segi fungsi. Namun demikian, kata sekolah saat ini berubah arti menjadi “bangunan” atau “lembaga” untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Fungsinya pun menjadi lebih formal. Artinya, disinilah sistem pendidikan formal yang umumnya wajib bisa didapatkan oleh seseorang. Jadi bukan lagi sekedar tempat untuk mengisi waktu luang atau sebagainya.

Pergi ke sekolah kini menjadi hal yang penting, berikut ini beberapa alasannya:

Mendapatkan Pendidikan Dasar

Ibarat fondasi sebuah bangunan, sepenting itu jugalah pendidikan dasar bagi seorang anak. Ini bukan saja akan membawanya mengenal dasar dari semua ilmu pengetahuan, tapi juga hal-hal baik dan benar lainnya yang akan terus tertanam, bahkan sampai beranjak dewasa. Hal-hal seperti tidak boleh mengambil barang milik orang lain, mengucap salam saat bertemu orang dan sebagai, mungkin terdengar sepele, namun ini bukannya tidak mungkin bisa menuntun seseorang menjadi manusia yang baik ke depannya.

Mendapat Pengetahuan

Salah satu tujuan orang sekolah adalah supaya menjadi pintar. Oke, tidak harus sepintar Einstein atau B.J Habibie, tapi paling tidak menjadi tahu atau paham akan sesuatu. Ya entah bisa menulis, bisa membaca, bisa menghitung, dan sebagainya. Dengan bersekolah seseorang bukan saja mendapatkan pengetahuan, tetapi juga wawasan. Pikiran juga menjadi lebih terbuka, sehingga tidak lagi sempit dalam memandang sesuatu. Ini penting, apalagi di era digital seperti sekarang ini, ketika berita bohong atau hoaks begitu mudah disebarluaskan. Jika tidak pintar dalam menyikapinya, maka kita akan mudah terprovokasi.

Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Bersekolah secara tidak langsung mengharuskan kita untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Adakalanya dari berbagai status sosial yang berbeda. Dari sini kepribadian seseorang bisa terbentuk, apakah dia akan tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri atau sebaliknya. Kepercayaan diri sendiri bukanlah hal sepele yang boleh dipandang sebelah mata. Seseorang yang hidupnya percaya diri biasanya selalu yakin dengan apa yang dilakukannya.

Dalam kehidupan sosial, kepercayaan diri ini juga sangat bermanfaat. So, jika kamu berharap menjadi satu dari banyak orang yang percaya diri, yuk sekolah dan bertemu banyak orang. Dengan sekolah, jendela ilmu dan pengetahuan kita akan semakin lebar. Ini jugalah yang nantinya akan berdampak pada kepercayaan diri.

Menumbuhkan Rasa Cinta Pada Bangsa dan Negara

Semakin sedikit generasi muda yang mengenyam pendidikan di sekolah maka semakin sedikit pula generasi yang memiliki jiwa nasionalisme. Karena itu, mengenyam pendidikan di sekolah pun menjadi sangat penting. Salah satunya demi membentuk dan menumbuhkan jiwa nasionalisme ini.

Nasionalisme sendiri bisa diartikan sebagai rasa memiliki dan kecintaan atas bangsa dan negara. Nah, kebayang dong, jika generasi muda tidak memiliki jiwa nasionalis terhadap bangsanya? Yang ada mereka akan menjadi cuek dan tidak peduli dengan nasib bangsa. Bagaimana negara ini bisa maju nantinya? Untuk menjadi seseorang yang mencintai bangsa dan negara kamu tidak harus berperang kok. Disiplin, belajar dengan baik, berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, itu sudah lebih dari cukup. Membuat startup mungkin?

Membangun Karakter yang Baik

Bukan tanpa alasan bagi pemerintah untuk menghadirkan mata pelajaran budi pekerti di sekolah-sekolah. Pendidikan ini penting demi membangun karakter generasi muda. Disini bukan saja norma kesopanan yang diajarkan, tetapi juga agama dan lainnya. Dengan mengikuti semua norma tersebut, generasi muda akan memiliki karakter yang kuat nantinya. Satu hal yang sangat dibutuhkan untuk membangun dan memajukan bangsa.

Kenapa Harus 12 tahun ?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjelaskan alasan dirintisnya program wajib belajar (wajar) 12 tahun dalam rapat kerja yang ...